Tulisan
 
  Aktual dan Umum (10)
  Animasi Flash (1)
  Artikel (19)
  Browsing (5)
  Cerita dan Kisah (5)
  Cerita Lucu (3)
  Curhat (9)
  Data dan Internet Tutorial (2)
  HTML Tutorial (3)
  Islam dan Seputarnya (8)
  Java Programming (1)
  Java Script dan CSS (1)
  Linux dan Seputarnya (5)
  Networking dan Hardware (6)
  PHP Programming (14)
  Sudut Pandang (20)
  Teknologi Informasi (23)
  Tentang Database (2)
  Web Desain and Development (5)
  Windows dan Seputarnya (6)
 
Ngobrol Bareng Adi Sumaryadi langsung aja klik salah satu Messanger kesukaan anda:
Yahoo Facebook
Facebook Adi Sumaryadi

depanlastcomment
asyima puteri asyima puteri dalam Cintaku Kandas Juga Ditengah Jalan
Del Prio Del Prio dalam Tips Optimasi dan Mengontrol MySQL
ligan ligan dalam Pilihan Hosting Control Panel Gratis dan Opensource
sri sri dalam Mengedit Film Menggunakan Movie Maker
zacky zacky dalam Orang Jawa Cenderung Lebih Pede Ketimbang Orang Sunda
Judul
Kalau Mau Menghujat Kunjungi Saja Detik.com

Oleh : Adi Sumaryadi

Menghujat memang bukan prilaku yang baik, namun ketika rasa ingin menghujat itu muncul tiba-tiba tentu butuh penyaluran yang aman dan tidak beresiko tinggi. Ketika anda merasa ingin menghujat, menghina orang atau mencemoohkan orang, saran saya jangan sekali-kali dicoba karena akan sangat fatal akibatnya, tapi bagaimana kalau ternyata semuanya susah untuk dihindari atau bahkan jadi hobi, itumah terserah anda. Yang pasti saya menyarankan kunjungi saja detik.com, promosi dong? bukan, saya hanya ingin mencoba menelaah kenapa ini bisa terjadi. Terus kenapa mesti detik.com?

Kehadiran Web teknologi kedua yang biasanya orang disebut sebagai Web 2.0 ditandai dengan banyaknya web yang menyediakan fasilitas interaksi langsung dengan pengunjung, dengan kata lain, sebuah web tidak hanya menjadi alat penyampai informasi satu arah tetapi sudah menjadi media interaktif yang menarik.

Kenapa mesti detik.com?


Detik.com masih menjadi situs yang paling banyak diakses dinegeri ini dan hal inilah yang menunjukan bahwa kemungkinan orang untuk berkomentar lebih banyak dan lebih mempunyai tingkat perbedaan pemikiran yang sangat beragam. beberapa taun kebelakang, detik.com menghadirkan sebuah fasilitas komentar terhadap semua berita yang dihadirkan, mulai dari berita yang menarik perhatian orang banyak seperti Berita Nikah Keduakalinya Aa Gym hingga berita ecek-ecek yang justru orang berkomentar untuk detik.com. Ternyata saya liat semakin hari semakin banyak komentar yang tidak enak dibaca dan dilihat, sepertinya tidak ada yang positif di dunia ini, Pemerintah melakukan kesalahan sedikit saja dan diberitakan oleh detik langsung dihujat oleh pengunjung, jangankan berita yang jelek, berita baguspun mendapatkan ejekan dan biasanya ejekan itu tidak nyambung dengan apa yang diberitakan oleh detik ditambah lagi saya liat detik jarang sekali mengangkat berita yang bisa membawa kenyamanan bagi pembaca, saya tidak tau apakah detik memegang prinsip "Bad News is Good News", Wallahualam.


Dibawah ini adalah salah satu screenshot yang saya ambil pada berita SyehPuji.

Screnshot komentar detik.com

Inilah yang menyebabkan saya menulis tulisan ini, jika anda kesal kepada pemerintah, cari aja berita di detik, dan hujat sepuasnnya disitu atau kalau anda kesal pada seseorang, kunjungi saja detik karena komentar yang tidak nyambungpun ternyata dimunculkan juga.

Tulisan ini bukan maksud untuk mengajak orang untuk berbuat jelek dan melakukan provokasi tetapi ada sesuatu yang harus kita liat kenapa ini bisa terjadi. Apakah benar ini yang disebut web 2.0?

Sebab Semuanya Terjadi

Komentar awalnya lahir di blog-blog dan aplikasi blog, namun lambat laun portal-portal besar juga menyediakan fasilitas ini, lalu kenapa saling hujat itu bisa terjadi?

1. Komentator yang mengirimkan komentar memang seperti belum paham fungsi fasilitas komentar itu, bagusnya fasilitas ini digunakan untuk diskusi dan memberikan saran, bukan menghujat. Situs apapun tentunya bisa digunakan untuk saling menghujat karena semunya berasal dari point ini.

2. Moderasi yang dilakukan di belakang layar tidak optimal, banyaknya komentar yang masuk kemungkinan yang membingungkan approval untuk menggaprove semua pesan yang masuk. Mungkin sebaiknya detik lebih cermat memoderasi komentar yang masuk. Adanya detikID yang baru dimunculkan menurut saya tidak terlalu berpengaruh kepada kualitas komentar yang bakal masuk.

Sekarang yang menjadi PR kita adalah, kita harus menjadi komentator yang baik di fasilitas comment diwebsite siapapun. Lupakan tulisan diatas dan jangan dicoba hanya untuk menggambarkan saja bahwa ketika kita menghadirkan sebuah layanan di website berarti kita punya tanggung jawab moral untuk menjaganya, jangan hanya untuk menaikan hit. Bagaimana menurut pendapat kawan-kawan?


Cetak Tulisan Kirim Keteman Arsip Share ke Facebook


Tulisan lainnya :
- Orang Jawa Cenderung Lebih Pede Ketimbang Orang Sunda
- Saatnya Marah dan Saatnya Bertengkar
- Mengadu Saja Sama Media Massa
- Kalau Mau Pelacur Ada Disana Mas
- Mencari Arti Feminim Yang Sesungguhnya
Komentar
agus 1 - Selasa, 28 Oktober 2008 07:37 WIB
agus,* di *
ladang utk bersikap bijak. Indikator kecil kondisi warga Indonesia menghadapi problematika ummat, suatu saat nanti pasti ada karmanya :)
lintang 2 - Rabu, 29 Oktober 2008 20:18 WIB
lintang,pengamat bola di ada deh
ya namanya juga dunia warta khan biar rame kalaw gk gtu gk rame dong justru saling hujat kita jadi banyak kenal nah di situ kita dapat saudara lagi sanes kitu??
Dan 3 - Minggu, 18 Januari 2009 17:50 WIB
Dan,Reader di Jatim
Sepertinya, tulisan anda juga-menyiratkan-(meng) 'hujat-an' bagi detik.com. Meski secara halus. Emmm....
adi waskita 4 - Minggu, 13 Juni 2010 09:10 WIB
adi waskita,mahasiswa di bali
ha hah a... biarkan saja... kan sudah tertera di undang-undang dasar, bahwa kita memiliki Hak untuk BErpendapat.. jadi, sah-sah saja..

sekaligus sebagai pelimpah penat yang selama ini berkutat di otak bisa juga di keluarkan..

he he he he...
Nama Email
Alamat Pekerjaan
Homepage / Blog Notifikasi
Komentar

Masukan kata yang ada dalam gambar diatas
Kunjungan 1.041.988 klik
Website ini dibuat dan dimaintenance oleh Adi Sumaryadi 2007